Recent Squad
Showing posts with label event officer. Show all posts
Showing posts with label event officer. Show all posts

Hard Selling


Pernahkah anda ditawarkan untuk membeli sebuah produk alat kesehatan? Pernahkah anda di ditawarkan dengan sedikit memaksa untuk apply kartu kredit?. Pernahkan anda menyaksikan tayangan iklan di telivisi yang menawarkan langsung sebuah produk?. Pernahk anda melihat dan membaca tawaran produk dipapan reklame di pingir jalan. Atau pernahkan anda tiba tiba teman facebook anda menawarkan sebuah produk?

Itu semua adalah Hard Selling

Berbeda dengan Soft Selling, Hard Selling adalah sebuah strategy penjualan yang langsung menawarkan sebuah produk kepada calon pembeli dengan harapan pelanggan segera mengambil keputusan untuk membeli. Sedikt bersifat agresif dan menekan calon pembeli. Keberadaannya langsung bisa dikenali sebagai pen jual.

Keuntungan dari strategy ini adalah langsung kepada tujuan yakni menjual produk. Sangat minim edukasi dan sedikit memaksa pelanggan untuk mengambil keputusan membeli atau tidak sekarang juga. Sangat cocok untuk klien yang siap untuk membeli tanpa perlu pertimbangan panjang.

Namun strategy ini seringkali nampak terlalu agresif sehingga kadang calon pembeli merasa terganggu. Jarang sekali strategy ini menghasilkan hubungan emosional antara pelanggan dengan produk. Pelanggan hampir hampir tidak tersentuh hatinya. Loyalitas pelanggan terhadap produk yang kita jual sangat rendah sekali.


Soft Selling


Pernahkah anda tertarik untuk melakukan test kesehatan secara lengkap dan gratis yang disediakan di tempat tempat tertentu?. Hal ini sering terjadi Mall, apotik dan tempat umum lainnya. Selain gratis kita diberikan copy lengkap hasil test-nya. Namun setelah itu kita di sodori sebuah produk yang bisa menjaga agar tumbuh kita tetap sehat.

Atau pernahkah kita menyaksikan sebuah acara di televisi tentang topik kesehatan?. Disitu nara sumber dan host berbicara bagaimana gejala penyakit ini dan bagaimana mengantisipasinya dan bagaimana menjaga pola hidup sehat. Dan tanpa disadari disitu ternyata ada produk produk yang bisa kita gunakan atau merasa kita butuhkan untuk menjaga kesehatan kita?.

Atau pernah kita kita menyaksikan sebuah komunitas yang menampakan kekompakan, happy fan sehingga kita harus memiliki produk tertentu untuk bisa bergabung dengan komunitas tersebut atau paling tidak kita kelihatan kompak dan happy seperti komunitas tersebut.

Yah itulah yang namanya soft selling.

Soft Selling adalah strategi pemasaran ayng mengedepankan pola hubungan dan pendidikan/education yang dapat melahirkan kesadaran pada setiap pelanggan akan kebutuhan sebuah produk. Ciri dari strategi ini adalah dilakukan secara halus dan sangah jauh dari sifat memaksa dan provokasi. Sifatnya seringkali berbetuk edukasi dalam membangun kesadaran dan need pelanggan

Strategy pemasaran ini sangat efektif untuk membangun brand produk maupun company. Hasil akhir dari strategy ini biasanya adalah pelanggan pelanggan yang memiliki loyalitas tinggi. Karena pelanggan memeiliki kesadaran sendiri dan merasa memiliki hubungan emosional yang tinggi yterhadap produk maupun company. Memang strategy ini tidak instan dengan menghasilkan pelanggan secara cepat. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pelanggan.


Sumber

Word To Mouth Marketing


Ketika kita mencari produk tertentu dan mengetahui tehnologi serta featurnya dari iklan-iklan yang ada, saya jamin anda pasti pusing untuk menentukan plihan yang tepat. Karena berkat teknologi yang semagin canggih, semua featur yang dimiliki berbagai produk yang ada relatif sama. Sedangkan iklan dari berbagai prpoduk tersebut semua menjanjikan sesuatu yang menarik semua. Namun anda akan sangat mudah untuk menentukan pilihannya ketika ada orang dekat anda baik itu sahabat, keluarga, atau teman kantor yang berbicara tentang kelebihan produk elektronik tertentu diantara sekian banyak pilihan produk. Inilah yang disebut word of mouth atau dalam bahasa kita sehari-hari adalah Getok Tular.

Perusahaan-perusahaan saat ini berusaha memicu terjadinya penyebaran informasi produknya dari mulut ke mulut atau getok tular i. Mereka berusaha untuk dapat mengidentifikasikan orang-orang yang paling dulu membeli produk model barunya, banyak bicara dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi serta memiliki jaringan kenalan yang luas. Strategy ini terbukti jitu dan ampuh. Melihat keampuhan dari strategy ini, para markter memanfaatkan dengan membentuk komunitas atau mendekati komunitas yang ada. Coba lihat loyalitas komunitas pemilik Harley Davidson dari para Pria yang suka berpetualang. Dan coba lihat strategi amoeba-nya produk tupperware yang dilesatkan oleh pak Nur Kuntjoro (COO) melalui arisan ibu ibu.

Pemasaran komunitas ini lebih mengena daripada sekedar segmentasi. Karena di dalam komunitas inilah produk kita akan semakin banyak dibicarakan oleh orang yang memiliki hobi yang sama. Apalagi akhir-akhir ini dengan menjamurnya pengguna internet maka pemasaran komunitas semakin naik daun. Menjamurnya para blogger juga menjadi cara untuk menyebarkan kelebihan produk kitamelalui para blogger. Era Pemasaran strategy inilah oleh Markplus disebut sebagai Era New Wave Marketing. Pemasaran horisontal Many to many marketing begitu mereka menyebutnya.

Enam Mitos Komunitas Brand



Ada dua cara bagi sebuah brand untuk berkomunitas. Pertama, masuk komunitas yang sudah ada. Kedua, membuat komunitas brand sendiri.

Tapi, berbagai mitos yang tidak sama dengan realitas menyebabkan kegagalan.Pertama, pembentukan komunitas brand dianggap sebgai strategi pemasaran. Jadi, hanya diurusi oleh departemen marketing. Padahal itu adalah strategi bisnis. Jadi, harus benar-benar pekerjaan CEO.

Ketika Harley Davidson menetapkan brotherhood sebagai dasar komunitasnya, itu adalah keputusan bisnis bukan pemasaran. Karena itulah, brotherhood bukan hanya terjadi di eksternal, tapi juga pada internal customers. Harley Owners Group atau HOG adalah organisasi komunitas brand yang langsung melapor pada CEO!

Kedua, komunitas brand ada untuk mendukung bisnis. Padahal, komunitas brand itu diadakan untuk melayani orang-orang di dalamnya. Kalau orang-orang anggota komunitas tersebut tidak merasa mendapat apa-apa di situ, komunitas akan rapuh. Orang-orang itu juga minta dikenal, dihargai, dan diikutsertakan dalam berbagai hal. Barulah mereka merasa betah dan terikat pada komunitas brand tersebut.

Ketiga, marilah membangun brand, maka komunitas akan mengikuti. Padahal yang terjadi sebaliknya, buatlah komunitas jadi kuat, maka brand akan jadi kuat juga. Dulu, orang mengagumi pada sebuah brand yang kuat, gagah, dan perkasa. Karena itu, orang lantas membentuk fans club untuk berkumpul dan bersama-sama mengagumi.

Sekarang, sebaliknya! Orang semakin tidak mau, kalau brand tertentu tidak peduli akan komunitasnya. Semakin brand peduli pada komunitasnya, semakin kuat brand itu didukung oleh komunitas.

Keempat, komunitas hanya harus mendukung brand secara fanatik. Ternyata, membiarkan komunitas berpendapat berbeda dan terjadi adu argumen tentang sebuahbrand adalah bagus. Itu berarti ada perhatian dari anggota komunitas yang sama-sama peduli terhadap brand tertentu.

Ketika Sabun Dove melakukan kampanye tentang the real beauty, banyak perdebatan di kalangan perempuan dengan beragam tipe. Perempuan muda, perempuan kurus, perempuan STW, perempuan yang berkulit hitam, bahkan perempuan gemuk pun ingin ikut mendefinisikan tentang real beauty.

Itu menunjukkan letupan jiwa atau anxiety and desire dari para perempuan itu bahwa mereka pun ingin bisa mencapai tingkatan real beauty itu. Kalau sudah begitu, Dove dianggap brand yang peduli akan hal tersebut. Itu lebih bagus daripada Dove langsung saja mendefinisikannya.

Kelima, Opinion Leader akan bisa membangun komunitas secara kuat. Kenyataannya, komunitas yang kuat adalah yang memberi kesempatan pada semua anggotanya mengambil peranan atau role. Lihat saja Mark Zuckerberg yang mendirikan Facebook, dulunya juga nobody. Tapi, dia tahu bagaimana membuat semua orang bisa mendirikan komunitas pribadi dengan menggunakan platform-nya. Komunitas tidak boleh dimonopoli oleh eksekutif brand, walaupun mereka adalah pendirinya. Ajak anggota untuk ikut berperan walaupun tetap dengan pengarahan.

Keenam, media sosial adalah kunci kesuksesan sebuah komunitas. Yang benar adalah media sosial hanya sebuah alat bukan straregi komunitas. Sebuah komunitas online akan rapuh tanpa ada kopi darat (kopdar) yang teratur. Justru pertemuan-pertemuan off-lineitulah yang membuat hubungan antarmanusia di dalam komunitas semakin kuat. Nah, komunikasi on-line akan makin mempererat lagi.

Selamat membentuk komunitas brand. Tapi, jangan terjebak enam mitos yang berasal dari Susan Fouenier dan Lara Lee di Harvard Business Review itu.

Bagaimana pendapat Anda?


Sumber
 
Copyright © 2015 | Buzzer Agency - All Rights Reserved.
Supported by : Creating Website | Johny Template | Mas Template