Recent Squad
Showing posts with label blog. Show all posts
Showing posts with label blog. Show all posts

Pasar Komunitas Kultur Indonesia



Berkumpul dan berkomunitas merupakan ciri khas masyarakat Indonesia yang telah dibangun sejak ribuan tahun lalu. Masyarakat kita telah lama memegang prinsip gotong-royong dalam hidup, segala hal dapat dilakukan dengan mudah dengan bersama-sama. Bahkan ada pepatah kuno yang mengatakan “makan gak makan asal kumpul”.

Budaya yang telah turun menurun ini tentu memberikan sinyal kepada marketer untuk melakukan sesuatu agar program marketing bisa berjalan dengan memanfaatkan budaya yang ada.

Sering kita jumpai iring-iringan sepeda motor atau mobil yang menggunakan merk dan varian tertentu. Sebut saja komunitas Honda Tiger, Honda Beat, Motor Gede, Yamaha Mio, Ducati, Ninja 250, Mobil VW antik dan masih banyak lagi. Sering juga saya melihat orang-orang yang punya kesamaan hobi, seperti memancing, main yoyo, menulis, melukis grafiti, skate board, dance dan banyak lagi.

Komunitas-komunitas seperti ini terbentuk karena adanya kesamaan passion. Sebagian dari mereka secara alamiah membentuk komunitas dan sebagian lain memang diciptakan oleh pemegang merk.

Keinginan untuk berkomunitas ini juga yang memicu pertumbuhan pengguna facebook di Indonesia melewati angka 43 juta pengguna dan menurut socialbakers.com Indonesia menempati urutan terbesar ke 4 dunia. Tidak mau ketinggalan dengan facebook, twitter, media sosial 140 karakter ini menurut riset semiocast.com meraup lebih dari 19,5 juta akun di Indonesia, dengan raihan ini Indonesia menduduki peringkat ke 5 besar dunia. Jadi jangan heran jika tweet dari Indonesia sering jadi TTWW (Trending Topic World Wide).

Coba kita amati, starbucks yang menjual kopi dengan konsep tempat nongkrong yang nyaman mampu mencatatkan nama Indonesia pada posisi gerai terbanyak ke 8 di seluruh dunia. Padahal harga kopi yang di jual di starbucks relatif mahal sampai IDR 39.000.

Sukses stabucks kemudian diikuti oleh perusahaan asli Indonesia Coffee Toffee yang membuat konsep penjualan kopi mirip stabucks. Saat ini jumlah gerai yang dimiliki Coffee Toffee telah mencapai 114 outlet. Perusahaan yang memenangkan Wirausaha Muda Mandiri Award 2011 ini menargetkan membuka hingga 250 gerai.

Dari convenience store coba kita lihat 7-eleven yang membuka gerai retail layaknya minimarket namun disertai tempat nongkrong yang cukup luas. Convenience store asal Amerika Serikat yang saat ini kepemilikanya dipegang oleh perusahaan Jepang ini sangat mengerti budaya Indonesia yang suka berkumpul. Oleh karenanya 7-eleven memberikan tempat nongkrong yang lebih luas untuk pasar Indonesia dibandingkan gerai 7-eleven di negara lain.

Membentuk komunitas bagi marketer adalah membuat saluran air permanen yang sulit digantikan. Loyalitas komunitas relatif lebih kuat dibandingkan customer yang terpencar-pencar. Customer yang tergabung dalam komunitas biasanya tidak mudah digoyang dengan iming-iming hadiah, diskon atau harga murah. Misalnya komunitas Motor Honda, tentu akan sulit direbut oleh merk lain, karena membeli merk lain, berarti dia akan kehilangan komunitasnya. Dan bagi mereka, persahabatan jauh lebih penting dari segalanya.

Tugas untuk setiap marketer saat ini adalah bagaimana merancang dan mengeksekusi aktifitas marketing untuk memberi saluran yang tepat untuk customer agar dapat berkomunitas, nongkrong bareng, bertemu online maupun offline.


Sumber

Disayangkan Jika Komunitas Hanya Dianggap Target Market



Pengamat pemasaran Yoris Sebastian mengamati bahwa kini makin banyak bermunculan komunitas konsumen, terutama komunitas yang terkait dengan merek suatu produk tertentu. Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya fokus mengejar kuantitas dan menganggap komunitas ini sebagai target market, bukan komunitas sebagai kumpulan orang dengan passion yang sama.

Yoris berpendapat, mestinya perusahaan benar-benar membentuk atau mencari komunitas yang memang selaras dengan perusahaan mereka. Sehingga komunitas tersebut benar-benar aktif dengan atau tanpa dukungan dari perusahaan. “Banyak komunitas yg mati begitu tidak disupport lagi oleh perusahaannya,” kritik pakar kreativiras itu. Terutama pada komunitas yang berbasis nama brand, bukan komunitas yang berbasis kesamaan anggotanya.

Toh, itu bukan berarti Yoris tidak setuju komunitas dengan memakai nama perusahaan tertentu. “Tapi, dasarnya harus dari kesamaan passion, needs, pekerjaan atau lainnya,” tuturnya menyarankan.

Menurutnya, membentuk komunitas itu pekerjaan maraton. Jadi, bukan pekerjaan dengan “akhir” tertentu. Ia lalu meminta kita melihat bagaimana Harley Owner Group dibuat sebagai platform, setelah itu para anggota komunitasnyalah yang aktif. “Aktif, jadi mereka tetap sibuk bikin acara sendiri meski tidak dikasih uang bensin,” tegasnya. Ia membenarkan banyak komunitas yang harus disuapi terus oleh brand yang mendukung komunitas tersebut.

Untuk tidak menjadi bumerang, ia menyarankan perusahaan harus tampil sebagai problem solver dari komunitas yang ada, atau untuk komunitas yang dibentuk. “Brand harus memberi berbagai hal yang belum tentu bisa dicapai oleh si komunitas itu, Sehingga mereka melihat brand sebagai hero, dan mereka akan berterima kasih kepada brand yg mendukungnya,” paparnya.

Ia menegaskan, kerja sama dengan komunitas atau membentuk komunitas tidak melulu dengan harus ada embel-embel hard sell. “Sekarang semakin banyak open community yang sengaja dibuka oleh brand untuk menunjukkan how good their user is,” imbuhnya. Nah setelah komunitas itu sudah jalan dengan solid barulah diberikan berbagai kemudahan atau added value untuk mereka.

Intinya brand selalu menjadi problem solver. “Dilihat problem apalagi yang bisa dipecahkan? Sehingga makin banyak orang mau ikut komunitas tersebut,” katanya. Maka itu perusahaan sebaiknya ada tim khusus yang menangani komunitas ini. Namun tidak tertutup jika itu perusahaan kecil, bisa ditugaskan ke bagian marketing.

Tujuan utama yang harus ditekankan, lanjut Yoris, selalu membuat komunitas menjadi lebih baik. Bila komunitas semakin baik tentu bisa berdampak ke merek produk yang mendukungnya juga. “Lihat saja komunitas ibu-ibu Tupperware, semakin banyak ibu-ibu yang sukses, sesuai dengan spirit “She Can” dan semakin besar komunitas “She Can”, sehingga makin besar kemungkinan penjualan produk mereka. Walau no string attched lho,” jelasnya.

Yoris mengingatkan, kerja sama tidak akan efektif jika brand hanya memikirkan bagaimana cara membuat komunitas ini membeli produkt/jasa mereka, bukannya terus mencari cara bagaimana mengembangkan anggota komunitas jadi lebih baik. Ia mencontohkan komunitas wirausaha muda mandiri (WMM) milik Bank Mandir. Semakin sukses si pengusaha muda artinya semakin besar kesempatan mereka menggunakan berbagai fasilitas Bank Mandiri. Walau tidak ada syarat khusus bahwa yg ikut program WMM hanya nasabah Bank Mandiri.


Strategy Marketing ala Mendekati Cewek Cafe


Dunia yang semakin kompetitif memaksa para marketer untuk secara kreatif menggali startegy strategi baru dan paling jitu. Terlebih saat dunia semakin tanpa batas dengan perkembangan internet yang semakin canggih. Namun sebenarnya secara strategy marketing bagaikan men dekati cewek dalam sebuah cafe. Tentu beragam cara dan taktik ketika ingin berkencan dengan cewek tersebut.

Pertama, ketika kita meihat cewek yang aduhai he he he. Kita langsung mendekati cewek dan mengatakan “ hallo cewek, kamu mau nggak kencan sama saya, nama saya X, saya orangnya cakep and tajir. Loe rugi deh kalu nggak kencan sama gue, ayolah kita kencan”. Strategy ini sering disebut sebagai Hard Selling. Strategy penjualan seperti ini terbilang kasar. Coba lihat di facebook, banyak kan yang tiba tiba menawarkan produk. Biasanya strategi ini seorang salesman atau marketer akan banyak berbicara tentang kelebihan-kelebihan produknya kepada pelanggan tanpa mau mengetahui apa sebenarnya yang dibutuhkan pelanggan. Strategi ini seringkali memaksa, meminta sampai memohon belas kasih untuk mendapatkan order. Strategy mengabaikan hubungan emotional dengan pelanggannya.

Kedua, Ketika kita ingin mendekati cewek dengan cara meminta seorang pelayan cafe untuk memberikan segelas wine kepada seorang cewek. Pelayanan tersebut kemudian mengatakan kepada cewek” saya diminta itu memberikan segelas wine ini untuk Mbak. Cowok yang duduk di situ yang mentraktir. Cowok itu ingin sekali berkenalan dengan mbak ”. Startegy ini dalam dunia marketing disebut sebagai Advertising, Advertising (Periklanan atau Promosi ) adalah suatu bentuk komunikasi yang ditujukan untuk mengajak orang yang melihat, membaca atau mendengarnya untuk melakukan sesuatu. Ada dua strategy pertama, Above The Line (ATL) adalah aktifitas marketing/promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi. Sifat ATL merupakan media ‘tak langsung’ yang mengenai audience, karena sifatnya yang terbatas pada penerimaan audience. Kedua, Below The Line (Media Lini Bawah) adalah segala aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat retail/konsumen dengan salah satu tujuannya adalah merangkul konsumen supaya aware dengan produk kita, contohnya : program bonus/hadiah, event, pembinaan konsumen dll. Pada intinya aktifitas BTL selalu bertujuan untuk mendukung dan memfollow up aktifitas ATL. Sifat BTL merupakan media yang ‘langsung’ mengena pada audience karena sifatnya yang memudahkan audience langsung menyerap satu produk/pesan saja.


Ketiga, Strategy mendekati cewek di cafe dengan cara memberikan uang tips kepada beberapa pelayan. Agar pelayan tersebut berbicara kebaikan dan kelebihan kita di depan cewek yang ingin kita dekati bahkan didepan semua pengunjung cafe. Beberapa pelayan tersebut dengan cara bergantian dan secara alami akan mengatakan ” Mbak cowok itu namanya X, dia orangnya baik dan tajir. Banyak sekali pengunjung atau cewek yang mendekati dia, Selain itu cowok itu sabar dan cool and bla..bla..bla”. Pembicaraan atas kebaikan dan kelebihan kita ini berkembang dari sebelumnya antar pelayan sampai berkembang antar pengunjung Cafe. Namun kita yang sedang dibicarakan harus selalu menunjukan baik kita meaik baik dan memiliki kelebihan kelebihan. Startegy ini dalam marketing disebut sebagai Word of Mouth Marketing atau marketing komunitas atau juga disebut Getok Tular. Pelanggan akan membicarakan kelebihan atau benefit produk kita kepada rekannya, kepada saudaranya dan kepada kenalannya yang lain. Bahkan pelanggan pelanggan yang telah merasakan benefit membentuk komunitas yang selalu membicarakan produk kita. Bahkan pelanggan yang telah membentuk komunitas ini bisa memberikan masukan masukan ke perusahaan sehingga inovasi produk yang kita kembangkan sesuai ketinginan pelanggan. Hasilnya adalah pelanggan merasa memiliki emotional yang tinggi bahkan merasa memiliki produk tersebut. Pelanggan pelanggan inilah yang akan membela produk kita.

Akhirnya saya katakan bahwa area kompetisi yang sebenarnya berada di mind customer/benak pelanggan bukan dipasar.


Word To Mouth Marketing


Ketika kita mencari produk tertentu dan mengetahui tehnologi serta featurnya dari iklan-iklan yang ada, saya jamin anda pasti pusing untuk menentukan plihan yang tepat. Karena berkat teknologi yang semagin canggih, semua featur yang dimiliki berbagai produk yang ada relatif sama. Sedangkan iklan dari berbagai prpoduk tersebut semua menjanjikan sesuatu yang menarik semua. Namun anda akan sangat mudah untuk menentukan pilihannya ketika ada orang dekat anda baik itu sahabat, keluarga, atau teman kantor yang berbicara tentang kelebihan produk elektronik tertentu diantara sekian banyak pilihan produk. Inilah yang disebut word of mouth atau dalam bahasa kita sehari-hari adalah Getok Tular.

Perusahaan-perusahaan saat ini berusaha memicu terjadinya penyebaran informasi produknya dari mulut ke mulut atau getok tular i. Mereka berusaha untuk dapat mengidentifikasikan orang-orang yang paling dulu membeli produk model barunya, banyak bicara dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi serta memiliki jaringan kenalan yang luas. Strategy ini terbukti jitu dan ampuh. Melihat keampuhan dari strategy ini, para markter memanfaatkan dengan membentuk komunitas atau mendekati komunitas yang ada. Coba lihat loyalitas komunitas pemilik Harley Davidson dari para Pria yang suka berpetualang. Dan coba lihat strategi amoeba-nya produk tupperware yang dilesatkan oleh pak Nur Kuntjoro (COO) melalui arisan ibu ibu.

Pemasaran komunitas ini lebih mengena daripada sekedar segmentasi. Karena di dalam komunitas inilah produk kita akan semakin banyak dibicarakan oleh orang yang memiliki hobi yang sama. Apalagi akhir-akhir ini dengan menjamurnya pengguna internet maka pemasaran komunitas semakin naik daun. Menjamurnya para blogger juga menjadi cara untuk menyebarkan kelebihan produk kitamelalui para blogger. Era Pemasaran strategy inilah oleh Markplus disebut sebagai Era New Wave Marketing. Pemasaran horisontal Many to many marketing begitu mereka menyebutnya.

Enam Mitos Komunitas Brand



Ada dua cara bagi sebuah brand untuk berkomunitas. Pertama, masuk komunitas yang sudah ada. Kedua, membuat komunitas brand sendiri.

Tapi, berbagai mitos yang tidak sama dengan realitas menyebabkan kegagalan.Pertama, pembentukan komunitas brand dianggap sebgai strategi pemasaran. Jadi, hanya diurusi oleh departemen marketing. Padahal itu adalah strategi bisnis. Jadi, harus benar-benar pekerjaan CEO.

Ketika Harley Davidson menetapkan brotherhood sebagai dasar komunitasnya, itu adalah keputusan bisnis bukan pemasaran. Karena itulah, brotherhood bukan hanya terjadi di eksternal, tapi juga pada internal customers. Harley Owners Group atau HOG adalah organisasi komunitas brand yang langsung melapor pada CEO!

Kedua, komunitas brand ada untuk mendukung bisnis. Padahal, komunitas brand itu diadakan untuk melayani orang-orang di dalamnya. Kalau orang-orang anggota komunitas tersebut tidak merasa mendapat apa-apa di situ, komunitas akan rapuh. Orang-orang itu juga minta dikenal, dihargai, dan diikutsertakan dalam berbagai hal. Barulah mereka merasa betah dan terikat pada komunitas brand tersebut.

Ketiga, marilah membangun brand, maka komunitas akan mengikuti. Padahal yang terjadi sebaliknya, buatlah komunitas jadi kuat, maka brand akan jadi kuat juga. Dulu, orang mengagumi pada sebuah brand yang kuat, gagah, dan perkasa. Karena itu, orang lantas membentuk fans club untuk berkumpul dan bersama-sama mengagumi.

Sekarang, sebaliknya! Orang semakin tidak mau, kalau brand tertentu tidak peduli akan komunitasnya. Semakin brand peduli pada komunitasnya, semakin kuat brand itu didukung oleh komunitas.

Keempat, komunitas hanya harus mendukung brand secara fanatik. Ternyata, membiarkan komunitas berpendapat berbeda dan terjadi adu argumen tentang sebuahbrand adalah bagus. Itu berarti ada perhatian dari anggota komunitas yang sama-sama peduli terhadap brand tertentu.

Ketika Sabun Dove melakukan kampanye tentang the real beauty, banyak perdebatan di kalangan perempuan dengan beragam tipe. Perempuan muda, perempuan kurus, perempuan STW, perempuan yang berkulit hitam, bahkan perempuan gemuk pun ingin ikut mendefinisikan tentang real beauty.

Itu menunjukkan letupan jiwa atau anxiety and desire dari para perempuan itu bahwa mereka pun ingin bisa mencapai tingkatan real beauty itu. Kalau sudah begitu, Dove dianggap brand yang peduli akan hal tersebut. Itu lebih bagus daripada Dove langsung saja mendefinisikannya.

Kelima, Opinion Leader akan bisa membangun komunitas secara kuat. Kenyataannya, komunitas yang kuat adalah yang memberi kesempatan pada semua anggotanya mengambil peranan atau role. Lihat saja Mark Zuckerberg yang mendirikan Facebook, dulunya juga nobody. Tapi, dia tahu bagaimana membuat semua orang bisa mendirikan komunitas pribadi dengan menggunakan platform-nya. Komunitas tidak boleh dimonopoli oleh eksekutif brand, walaupun mereka adalah pendirinya. Ajak anggota untuk ikut berperan walaupun tetap dengan pengarahan.

Keenam, media sosial adalah kunci kesuksesan sebuah komunitas. Yang benar adalah media sosial hanya sebuah alat bukan straregi komunitas. Sebuah komunitas online akan rapuh tanpa ada kopi darat (kopdar) yang teratur. Justru pertemuan-pertemuan off-lineitulah yang membuat hubungan antarmanusia di dalam komunitas semakin kuat. Nah, komunikasi on-line akan makin mempererat lagi.

Selamat membentuk komunitas brand. Tapi, jangan terjebak enam mitos yang berasal dari Susan Fouenier dan Lara Lee di Harvard Business Review itu.

Bagaimana pendapat Anda?


Sumber

Chief Community Officer



Ide tulisan ini datang dari obrolan saya dengan mbak Petty Fatimahdari majalah Femina dan diskusi seru di Twitter mengenai nasib media konvensional (khususnya cetak) di tengah terjangan tsunami digital. Mbak Petty adalah Chief Community Officer (CCO) Femina. Saat pertama mengetahui jabatannya melalui kartu nama yang ia berikan, saya langsung kaget. Saya sudah membaca dan mendengar jabatan itu sejak lama dari majalah-majalah bisnis asing atau dari artikel-artikel di internet mengenai socmed dan community marketing. Tapi itu di Amerika, bukan di sini. Memang jabatan itu kini lagi hot-hot-nya di kalangan corporate America.

Di Indonesia, seumur-umur saya baru melihat title itu ya di kartu nama mbak Petty. Saya pun langsung curiga: Ini title, title-title-an atau title sungguhan? Ngobrol cukup lama dengan mbak Petty saya kian tahu bahwa itu title sungguhan. Ya, karena model bisnis Femina sudah berubah sedemikian rupa sehingga title Pemimpin Redaksi memang sudah tak relevan lagi disandang oleh pimpinan puncak perusahaan media satu ini.

ICC
Menarik sekali mencermati bagaimana mbak Petty mendefinisikan model bisnis Femina setelah bermetamorfose selama sekitar lima tahun terakhir sejak 2007. Setelah puluhan tahun beroperasi, Femina punya basis konsumen yang solid yaitu para pembacanya yang loyal. Femina punya konten, itu pasti. Femina juga punya mitra setia yaitu para pengiklan yang sudah dibangun business relationship-nya selama bertahun-tahun.

Maka kemudian yang dilakukan oleh Femina adalah mengaktifasi basis konsumen yang solid itu menjadi komunitas-komunitas sesuai dengan minat bersama (common interest) mereka: ada komunitas wanita wirausaha (Wanwir), ada komunitas para wanita karir, ada komunitas wanita penyuka kuliner, dst-dst (saat ini terdapat 9 komunitas). Setelah dibangun komunitas-komunitas, maka kemudian profil dan perilaku komunitas itu dipelajari secara mendalam. Bahkan Femina memiliki divisi riset khusus yang secara periodik menggali insight-insight berharga mengenai perilaku komunitas ini.

Insight-insight berharga ini adalah layaknya harta karun bagi Femina, karena dari situ Femina bisa merancang ide-ide program komunikasi dan aktifasi yang luar biasa. Ide-ide program yang luar biasa inilah yang kemudian ditawarkan kepada para pemilik merek sebagai sebuah solusi komunikasi dan pemasaran yang cespleng.

Di dalam model bisnis baru ini Femina sudah menjadi konsultan bagi pemilik merek, dengan bermodal pemahaman terhadap perilaku komunitas konsumen yang solid. Jadi, alih-alih jualan space iklan seperti kebanyakan penerbit cetak, Femina memosisikan diri sebagai konsultan komunikasi terintegrasi. Di Femina, ini disebut sebagai:Integrated Creative Communication (ICC).

MC = CC
Metamorfose Femina membuat saya merenung. Tsunami digital boleh memporak-porandakan perusahaan media secanggih Newsweeksekalipun, namun kalau perusahaan selalu fokus pada aset utamanya, yaitu konsumen, maka prahara digital bisa dikelola secara mumpuni.Customer-centricity yaitu selalu fokus pada pemahaman kebutuhan dan preferensi konsumen telah memungkinkan Femina menemukan model bisnis ampuh yang membuatnya sustainable di tengah ontran-ontran tsunami digital yang mematikan.

Metamorfose Femina semakin meyakinkan saya bahwa at the end of the day, bisnis media akan menjadi bisnis komunitas. Saya menyebutnya dengan sebuah formula simpel: MC = CC. Kalau dipanjangkan formula itu berbunyi begini: ujung-ujungnya setiapMedia Company akan menjadi Community Company. Untuk lolos dari terjangan tsunami digital perusahaan media haruslah dengan cepat memetamorfose basis konsumennya yang massif menjadi komunitas-komunitas konsumen yang solid. Lalu komunitas-komunitas konsumen itu dimonetisasi melalui penerapan model bisnis yang tepat dansustainable.

Apa jadinya kalau formula di atas dilanggar? Apa jadinya kalau perusahaan media tidak sigap memetamorfose diri menjadi community company? Jawabnya gampang ditebak: Be community company or you will die!!! Berubah menjadi perusahaan beraset komunitas seperti Twitter atau Facebook; atau mereka cepat atau lambat akan mati diterjang tsunami digital. Atau istilah slengekan-nya: di-Newsweek-kan

CE = CCO
Karena itu, seperti yang dilakukan Femina, yang dibutuhkan oleh perusahaan media kini bukanlah operasi bisul atau usus buntu dengan bius lokal, tapi operasi besar-besaran dengan bius total sekujur tubuh. Kalau pakai istilah bengkel, perusahaan media kini butuh overhaulbesar-besaran atau turun mesin. Nggak bisa cuma tambal sana tambal sini, atau permak sana permak sini. Perusahaan media di manapun perlu yang namanya: big-big corporate surgery.

Pertama, tentu mengubah secara fundamental model bisnisnya dari model bisnis jualan berita menjadi model bisnis pengelolaan komunitas konsumen. Kedua, kalau model bisnis berubah maka semuanya akan berubah: mulai dari strategi, struktur organisasi, proses bisnis,sistem dan model operasi, hingga sampai ke revenue model-nya (nggak bisa lagi cuma jualan space iklan). Tapi di atas itu semua yang pertama dan terutama adalah mengubah mindset dan paradigma dari pemimpin redaksi, redaktur, wartawan, pemimpin perusahaan, staf sirkulasi, hingga account executive agar fit dengan model bisnis yang baru. Ingat, business model transformation is about culture transformation.

Kalau agenda operasi bedahnya demikian seabrek seperti itu, pertanyaannya, lalu harus mulai dari mana? Usulan saya straight forward, yaitu seperti halnya yang dilakukan Femina, menggantijabatan Chief Editor menjadi Chief Community Officer: CE = CCO.

Seperti dijelaskan mbak Petty, sosok seorang CE dan CCO berbeda sama sekali kayak bumi dan langit. CCO tak cukup hanya sebatas piawai menulis, memimpin rapat redaksi, atau berolah ide merumuskan tema-tema rubrikasi. Seorang CCO juga sosok networker; sosokcommunity facilitator; sosok good listener; sosok yang supel danluwes bersosialisasi; sosok member connector; sosok conversations-builder; sosok passionate collaborator; dan sosok seorang great influencer.

Wahai perusahaan media, siapa yang berani ambil tantangan saya: mengganti posisi CE Anda menjadi CCO? Di sini uji nyali dimulai.


Kekuatan Komunitas dalam Social Media Marketing



Selama ini banyak yang salah pengertian bahwa ukuran keberhasilan atau kesuksesan kampanye pemasaran secara online di media social adalah jumlah fans atau follower. Semakin banyak fans atau follower, maka makin luas jangkauan kita pada konsumen dan akan makin baik penjualan kita. Hal ini sama sekali tidak benar. Mengapa ?

Hal ini terjadi justru karena perkembangan social media marketing itu sendiri. Brand atau produk akan mencari follower atau fans sebanyak-banyaknya (bahkan berani membayar jika perlu) tanpa mempedulikan ikatan antara dirinya (brand) dengan si penggemar. Sangat banyak buzzer (istilah untuk fans/follower yang dibayar untuk meretweet/men-tag) saat ini yang memang menjadikan aktifitasnya sebagai lahan mencari pemasukan. Sehingga keterikatan antara mereka hanyalah sebatas karyawan yang selalu mengikuti perintah majikannya. Tidak ada hubungan emosional yang mendasari.

Contoh sederhana : Brand A memiliki fans 10 ribu, Brand B hanya 2 ribu. Bedanya Brand A membayar orang untuk menjadi fansnya. Sementara Brand B mendapat fans 2 ribu secara murni melalui mulut ke mulut dan tanpa membayar. Sepintas jika kita kalkulasi secara matematis, Brand A akan lebih tinggi penjualannya. Tapi kenyataan berkata tidak. Brand B justru tumbuh lebih baik dari A. Kenapa ? Brand A membayar orang ,sehingga hubungan antara Brand dengan Fans menjadi one to many, yang berarti isu, kampanye dan kepentingan brand A hanya akan disampaikan oleh A menuju 10 ribu orang.

Lain halnya dengan brand B, jalur informasi akan tumbuh many to many. 2 ribu fans Brand B akan secara suka hati meng-update info ke jaringan social mereka masing-masing sehingga efek viral marketing nampak. Tetapi lebih dari itu, komunitas 2 ribu fans ini jika dikelola secara benar oleh Brand B akan menjadi kekuatan luar biasa sebagai ujung tombak “kampanye” perusahaan. Ini sama halnya dengan “mempekerjakan” ribuan orang untuk menjual produk anda secara cuma-cuma. Komunitas akan terbentuk karena kesukaan yang sama pada suatu hal. Memiiliki komunitas fans brand sendiri akan sangat membantu peningkatan penjualan.

Banyak cara yang bisa anda lakukan untuk membangun komunitas di media social, diantaranya :
Ajaklah satu atau beberapa influencer (orang yg berpengaruh dan memiliki fans banyak) untuk menggagas berdirinya komunitas brand anda.

Fasilitasilah komunitas dengan informasi terkini dan insentif misalkan membentuk forum khusus yang interaktif, menyediakan ebook gratis tentang produk dll. Sedapat mungkin adakanlah gathering (kumpul-kumpul) secara berkala, tak perlu mahal dan eksklusif, tujuannya agar ikatan emosional antara fans tetap terjaga.

Komunitas Sebagai Target Aktifitas Marketing



Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia telah selalu dan akan memerlukan interaksi dengan manusia yang lain. Karena perlunya untuk berinteraksi itulah maka terciptalah berbagai komunitas yang umumnya terbentuk karena adanya kesamaan antar anggotanya. Kesamaan itu bisa berupa kesamaan tempat tinggal, pekerjaan, minat, pendidikan, dan lain sebagainya. Kita bisa melihat adanya komunitas mulai dari sekitar kita, seperti terbentuknya RT/ Rukun Tetangga, Fans Club Artis, Kelompok Pengajian, Arisan, Klub Pengguna Motor Merek Tertentu, Ikatan Profesional Tertentu, dan lain-lain.

Kemajuan dan globalisasi yang diidentikkan dengan meningkatnya individualisme ternyata tidak melunturkan sifat dasar manusia dalam membangun komunitas. Kemajuan teknologi telah mengantarkan manusia untuk menciptakan bentuk baru dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Yahoo! Messenger, MIRC, Mailing List, Online Forum, Weblog, dan Friendster adalah contoh bagaimana manusia tetap berusaha berkumpul dan menjalin hubungan dan berbagi kesamaan dengan manusia-manusia lain. Disitu pulalah terbangun apa yang disebut dengan komunitas virtual. Tidak jarang komunitas virtual ini berlanjut dengan terbentuknya komunitas “fisik” alias terjadi pertemuan antar para anggotanya.

Komunitas dalam berbagai bentuk itu sebetulnya merupakan berkah bagi para marketer, karena disitu telah terjadi kumpulan sekelompok orang dengan segmentasi tertentu, entah itu berupa selompok orang dengan segmentasi berdasarkan faktor geografis, demografis, psikografis, maupun behaviour. Biasanya disitu terjadi proses pertukaran informasi yang begitu cepat –apalagi dengan majunya teknologi internet- yang menciptakan word of mouth. Disitu pulalah terdapat para Key Opinion Leaders yang menjadi influencer bagi anggotanya. Influencer itu misalnya adalah ketua RT, Ketua pengajian, aktifis mailing list, pentolan kelompok hobi, pimpinan fans club, dan lain-lain.

Selanjutnya adalah tugas para marketer untuk membidik komunitas mana yang menjadi target market mereka, lalu menciptakan aktifitas marketing yang sesuai dengan targetnya. Contohnya apabila produk yang dijual adalah produk gadget premium, maka bisa memanfaatkan gathering para eksekutif ataupun mailing list pecinta gadget untuk menyebarkan informasi produknya, atau bahkan memberikan sample produknya untuk dicoba oleh mereka. Ataupun contoh yang lain adalah bila ada pembukaan restoran baru, maka bisa mengundang komunitas pencinta kuliner untuk mencoba restoran baru. Dari situ diharapkan dapat menyebar rekomendasi positif tentang produk atau jasa yang ditawarkan oleh marketer.

Namun ada hal yang perlu diingat adalah perlunya mencari aktifitas marketing communication yang tepat untuk komunitas tersebut. Umumnya aktifitasnya berupa below the line activities ataupun melakukan sponsorship pada kegiatan komunitas tersebut seperti yang dilakukan perusahaan otomotif bagi klub pengguna kendaraan mereka. Aktifitas yang dilakukan tidak harus berupa hard promo karena disitu kadang tercipta resistensi terhadap aktifitas yang “terlalu jualan”, aktifitas public relation juga cukup ampuh untuk menggiring persepsi positif sesuai dengan keiinginan marketer. Juga pendekatan terhadap influenceramat penting dilakukan sehingga diharapkan mereka akan menjadi “lokomotif” opini yang menguntungkan marketer. Marketer juga harus menjaga kejujuran dalam mengkomunikasikan produk dan jasanya, karena sekali saja target market merasa dibohongi maka rekomendasi negatif akan cepat menyebar. Kejujuran disini bukan berarti produk atau jasa harus perfect, namun marketer perlu memberikan informasi yang setransparan mungkin kepada anggota komunitas terutama bila anggota komunitas menghadapi masalah dengan produk atau jasa tersebut.

Kegiatan marketing bagi komunitas ini memang memerlukan kreatifitas yang lebih dari para marketer, namun tidak harus berbiaya besar karena marketer dapat memanfaatkan berbagai bentuk kegiatan yang murah seperti viral marketing. Semuanya bermuara pada kemauan dan kejelian para marketer untuk memilih dan mengintegrasikan aktifitas marketingnya dalam satu kerangka strategi yang tepat.


Sumber

Kekuatan Komunitas dan Marketing


Bagaimana pemasar/marketer memandang suatu komunitas untuk keperluan marketing?

Dalam masyarakat, banyak muncul komunitas2 berdasarkan faktor persamaan tertentu (common interest) dari anggota-anggotanya. Salah satunya contoh berkumpul karena faktor kesamaan menggunakan produk tertentu.

Komunitas ada yang terbentuk dengan sendirinya (original) dan ada yang sengaja dibuat (sponsorship) atau disponsori oleh produsen tertentu. Komunitas pengguna sepeda motor / mobil merk tertentu atau karena anggota-anggotanya punya hobi tertentu dan sebagainya.

Bagi pemilik merk, ada dua sikap: bisa berkolaborasi atau mengabaikan sama sekali keberadaan komunitas tersebut. Mengabaikan tentu bukan pilihan bijak, untuk merangkul komunitas maka kolaborasi adalah pilihan terbaik. Dengan demikian akan mendatangkan segi positif bagi komunitas, produsen, konsumen, dan lain sebagainya.

Melalui komunitas, produsen dapat memberi kontribusi positif kepada masyarakat dengan mendukung program yang dilakukan komunitas tersebut. Jadi, agar komunitas dapat berjalan baik dan memberi manfaat harus ada perhatian khusus yg diberikan oleh pemilik merk. Secara langsung atau tak langsung, keberadaan komunitas dapat membantu meningkatkan penjualan. Layak dipertimbangkan sebagai kanal pemasaran. komunitas dapat dijadikan salah satu forum untuk promosi.

Komunitas online pun sekarang makin berkembang melalui berbagai media online seperti facebook, twitter, google plus, dll. Kekuatan online media harus dicermati para pemasar karena sangat potensial jika mampu memanfatkan secara tepat. komunitas pengusaha/entrepreneur muda di ranah online belakangan juga semakin semarak dan potensial. 

Harus diakui memang belum banyak pemasar yang menggarap komunitas, karena bukan seperti mass marketing yang sekali promosi bisa mencakup banyak audiens. Namun, manfaat dengan adanya komunitas , dapat meningkatkan loyalitas konsumen. 

Dari segi negatifnya, sedikitnya ada aktifitas komunitas yang tak sesuai visi misi perusahaan atau bisa saja kontraproduktif. Karena komunitas berada di luar koridor perusahaan, kecuali yang sengaja dibentuk oleh perusahaan dan mungkin ada aktifitas yang tak sejalan dengan filosofi perusahaan. Misal, komunitas otomotif yang tak dikelola dengan baik, kegiatannya malah berpotensi melanggar lalu lintas dan perusahaan pun ikut kena imbas.

Jika produsen peka terhadap suara komunitas, maka bisa jadi kekuatan terutama dengan promosi word of mouth-nya.


 
Copyright © 2015 | Buzzer Agency - All Rights Reserved.
Supported by : Creating Website | Johny Template | Mas Template