Recent Squad
Showing posts with label model. Show all posts
Showing posts with label model. Show all posts

Gallery Test 3



asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

Hard Selling


Pernahkah anda ditawarkan untuk membeli sebuah produk alat kesehatan? Pernahkah anda di ditawarkan dengan sedikit memaksa untuk apply kartu kredit?. Pernahkan anda menyaksikan tayangan iklan di telivisi yang menawarkan langsung sebuah produk?. Pernahk anda melihat dan membaca tawaran produk dipapan reklame di pingir jalan. Atau pernahkan anda tiba tiba teman facebook anda menawarkan sebuah produk?

Itu semua adalah Hard Selling

Berbeda dengan Soft Selling, Hard Selling adalah sebuah strategy penjualan yang langsung menawarkan sebuah produk kepada calon pembeli dengan harapan pelanggan segera mengambil keputusan untuk membeli. Sedikt bersifat agresif dan menekan calon pembeli. Keberadaannya langsung bisa dikenali sebagai pen jual.

Keuntungan dari strategy ini adalah langsung kepada tujuan yakni menjual produk. Sangat minim edukasi dan sedikit memaksa pelanggan untuk mengambil keputusan membeli atau tidak sekarang juga. Sangat cocok untuk klien yang siap untuk membeli tanpa perlu pertimbangan panjang.

Namun strategy ini seringkali nampak terlalu agresif sehingga kadang calon pembeli merasa terganggu. Jarang sekali strategy ini menghasilkan hubungan emosional antara pelanggan dengan produk. Pelanggan hampir hampir tidak tersentuh hatinya. Loyalitas pelanggan terhadap produk yang kita jual sangat rendah sekali.


Enam Mitos Komunitas Brand



Ada dua cara bagi sebuah brand untuk berkomunitas. Pertama, masuk komunitas yang sudah ada. Kedua, membuat komunitas brand sendiri.

Tapi, berbagai mitos yang tidak sama dengan realitas menyebabkan kegagalan.Pertama, pembentukan komunitas brand dianggap sebgai strategi pemasaran. Jadi, hanya diurusi oleh departemen marketing. Padahal itu adalah strategi bisnis. Jadi, harus benar-benar pekerjaan CEO.

Ketika Harley Davidson menetapkan brotherhood sebagai dasar komunitasnya, itu adalah keputusan bisnis bukan pemasaran. Karena itulah, brotherhood bukan hanya terjadi di eksternal, tapi juga pada internal customers. Harley Owners Group atau HOG adalah organisasi komunitas brand yang langsung melapor pada CEO!

Kedua, komunitas brand ada untuk mendukung bisnis. Padahal, komunitas brand itu diadakan untuk melayani orang-orang di dalamnya. Kalau orang-orang anggota komunitas tersebut tidak merasa mendapat apa-apa di situ, komunitas akan rapuh. Orang-orang itu juga minta dikenal, dihargai, dan diikutsertakan dalam berbagai hal. Barulah mereka merasa betah dan terikat pada komunitas brand tersebut.

Ketiga, marilah membangun brand, maka komunitas akan mengikuti. Padahal yang terjadi sebaliknya, buatlah komunitas jadi kuat, maka brand akan jadi kuat juga. Dulu, orang mengagumi pada sebuah brand yang kuat, gagah, dan perkasa. Karena itu, orang lantas membentuk fans club untuk berkumpul dan bersama-sama mengagumi.

Sekarang, sebaliknya! Orang semakin tidak mau, kalau brand tertentu tidak peduli akan komunitasnya. Semakin brand peduli pada komunitasnya, semakin kuat brand itu didukung oleh komunitas.

Keempat, komunitas hanya harus mendukung brand secara fanatik. Ternyata, membiarkan komunitas berpendapat berbeda dan terjadi adu argumen tentang sebuahbrand adalah bagus. Itu berarti ada perhatian dari anggota komunitas yang sama-sama peduli terhadap brand tertentu.

Ketika Sabun Dove melakukan kampanye tentang the real beauty, banyak perdebatan di kalangan perempuan dengan beragam tipe. Perempuan muda, perempuan kurus, perempuan STW, perempuan yang berkulit hitam, bahkan perempuan gemuk pun ingin ikut mendefinisikan tentang real beauty.

Itu menunjukkan letupan jiwa atau anxiety and desire dari para perempuan itu bahwa mereka pun ingin bisa mencapai tingkatan real beauty itu. Kalau sudah begitu, Dove dianggap brand yang peduli akan hal tersebut. Itu lebih bagus daripada Dove langsung saja mendefinisikannya.

Kelima, Opinion Leader akan bisa membangun komunitas secara kuat. Kenyataannya, komunitas yang kuat adalah yang memberi kesempatan pada semua anggotanya mengambil peranan atau role. Lihat saja Mark Zuckerberg yang mendirikan Facebook, dulunya juga nobody. Tapi, dia tahu bagaimana membuat semua orang bisa mendirikan komunitas pribadi dengan menggunakan platform-nya. Komunitas tidak boleh dimonopoli oleh eksekutif brand, walaupun mereka adalah pendirinya. Ajak anggota untuk ikut berperan walaupun tetap dengan pengarahan.

Keenam, media sosial adalah kunci kesuksesan sebuah komunitas. Yang benar adalah media sosial hanya sebuah alat bukan straregi komunitas. Sebuah komunitas online akan rapuh tanpa ada kopi darat (kopdar) yang teratur. Justru pertemuan-pertemuan off-lineitulah yang membuat hubungan antarmanusia di dalam komunitas semakin kuat. Nah, komunikasi on-line akan makin mempererat lagi.

Selamat membentuk komunitas brand. Tapi, jangan terjebak enam mitos yang berasal dari Susan Fouenier dan Lara Lee di Harvard Business Review itu.

Bagaimana pendapat Anda?


Sumber

Kekuatan Komunitas dan Marketing


Bagaimana pemasar/marketer memandang suatu komunitas untuk keperluan marketing?

Dalam masyarakat, banyak muncul komunitas2 berdasarkan faktor persamaan tertentu (common interest) dari anggota-anggotanya. Salah satunya contoh berkumpul karena faktor kesamaan menggunakan produk tertentu.

Komunitas ada yang terbentuk dengan sendirinya (original) dan ada yang sengaja dibuat (sponsorship) atau disponsori oleh produsen tertentu. Komunitas pengguna sepeda motor / mobil merk tertentu atau karena anggota-anggotanya punya hobi tertentu dan sebagainya.

Bagi pemilik merk, ada dua sikap: bisa berkolaborasi atau mengabaikan sama sekali keberadaan komunitas tersebut. Mengabaikan tentu bukan pilihan bijak, untuk merangkul komunitas maka kolaborasi adalah pilihan terbaik. Dengan demikian akan mendatangkan segi positif bagi komunitas, produsen, konsumen, dan lain sebagainya.

Melalui komunitas, produsen dapat memberi kontribusi positif kepada masyarakat dengan mendukung program yang dilakukan komunitas tersebut. Jadi, agar komunitas dapat berjalan baik dan memberi manfaat harus ada perhatian khusus yg diberikan oleh pemilik merk. Secara langsung atau tak langsung, keberadaan komunitas dapat membantu meningkatkan penjualan. Layak dipertimbangkan sebagai kanal pemasaran. komunitas dapat dijadikan salah satu forum untuk promosi.

Komunitas online pun sekarang makin berkembang melalui berbagai media online seperti facebook, twitter, google plus, dll. Kekuatan online media harus dicermati para pemasar karena sangat potensial jika mampu memanfatkan secara tepat. komunitas pengusaha/entrepreneur muda di ranah online belakangan juga semakin semarak dan potensial. 

Harus diakui memang belum banyak pemasar yang menggarap komunitas, karena bukan seperti mass marketing yang sekali promosi bisa mencakup banyak audiens. Namun, manfaat dengan adanya komunitas , dapat meningkatkan loyalitas konsumen. 

Dari segi negatifnya, sedikitnya ada aktifitas komunitas yang tak sesuai visi misi perusahaan atau bisa saja kontraproduktif. Karena komunitas berada di luar koridor perusahaan, kecuali yang sengaja dibentuk oleh perusahaan dan mungkin ada aktifitas yang tak sejalan dengan filosofi perusahaan. Misal, komunitas otomotif yang tak dikelola dengan baik, kegiatannya malah berpotensi melanggar lalu lintas dan perusahaan pun ikut kena imbas.

Jika produsen peka terhadap suara komunitas, maka bisa jadi kekuatan terutama dengan promosi word of mouth-nya.


 
Copyright © 2015 | Buzzer Agency - All Rights Reserved.
Supported by : Creating Website | Johny Template | Mas Template