Recent Squad
Showing posts with label talent. Show all posts
Showing posts with label talent. Show all posts

Gallery Test 1



asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher asdfsdfdsfdfd sdfsdfsdfd sdf sdfs dfsdfsdfdsf yhretyhher

Pasar Komunitas Kultur Indonesia



Berkumpul dan berkomunitas merupakan ciri khas masyarakat Indonesia yang telah dibangun sejak ribuan tahun lalu. Masyarakat kita telah lama memegang prinsip gotong-royong dalam hidup, segala hal dapat dilakukan dengan mudah dengan bersama-sama. Bahkan ada pepatah kuno yang mengatakan “makan gak makan asal kumpul”.

Budaya yang telah turun menurun ini tentu memberikan sinyal kepada marketer untuk melakukan sesuatu agar program marketing bisa berjalan dengan memanfaatkan budaya yang ada.

Sering kita jumpai iring-iringan sepeda motor atau mobil yang menggunakan merk dan varian tertentu. Sebut saja komunitas Honda Tiger, Honda Beat, Motor Gede, Yamaha Mio, Ducati, Ninja 250, Mobil VW antik dan masih banyak lagi. Sering juga saya melihat orang-orang yang punya kesamaan hobi, seperti memancing, main yoyo, menulis, melukis grafiti, skate board, dance dan banyak lagi.

Komunitas-komunitas seperti ini terbentuk karena adanya kesamaan passion. Sebagian dari mereka secara alamiah membentuk komunitas dan sebagian lain memang diciptakan oleh pemegang merk.

Keinginan untuk berkomunitas ini juga yang memicu pertumbuhan pengguna facebook di Indonesia melewati angka 43 juta pengguna dan menurut socialbakers.com Indonesia menempati urutan terbesar ke 4 dunia. Tidak mau ketinggalan dengan facebook, twitter, media sosial 140 karakter ini menurut riset semiocast.com meraup lebih dari 19,5 juta akun di Indonesia, dengan raihan ini Indonesia menduduki peringkat ke 5 besar dunia. Jadi jangan heran jika tweet dari Indonesia sering jadi TTWW (Trending Topic World Wide).

Coba kita amati, starbucks yang menjual kopi dengan konsep tempat nongkrong yang nyaman mampu mencatatkan nama Indonesia pada posisi gerai terbanyak ke 8 di seluruh dunia. Padahal harga kopi yang di jual di starbucks relatif mahal sampai IDR 39.000.

Sukses stabucks kemudian diikuti oleh perusahaan asli Indonesia Coffee Toffee yang membuat konsep penjualan kopi mirip stabucks. Saat ini jumlah gerai yang dimiliki Coffee Toffee telah mencapai 114 outlet. Perusahaan yang memenangkan Wirausaha Muda Mandiri Award 2011 ini menargetkan membuka hingga 250 gerai.

Dari convenience store coba kita lihat 7-eleven yang membuka gerai retail layaknya minimarket namun disertai tempat nongkrong yang cukup luas. Convenience store asal Amerika Serikat yang saat ini kepemilikanya dipegang oleh perusahaan Jepang ini sangat mengerti budaya Indonesia yang suka berkumpul. Oleh karenanya 7-eleven memberikan tempat nongkrong yang lebih luas untuk pasar Indonesia dibandingkan gerai 7-eleven di negara lain.

Membentuk komunitas bagi marketer adalah membuat saluran air permanen yang sulit digantikan. Loyalitas komunitas relatif lebih kuat dibandingkan customer yang terpencar-pencar. Customer yang tergabung dalam komunitas biasanya tidak mudah digoyang dengan iming-iming hadiah, diskon atau harga murah. Misalnya komunitas Motor Honda, tentu akan sulit direbut oleh merk lain, karena membeli merk lain, berarti dia akan kehilangan komunitasnya. Dan bagi mereka, persahabatan jauh lebih penting dari segalanya.

Tugas untuk setiap marketer saat ini adalah bagaimana merancang dan mengeksekusi aktifitas marketing untuk memberi saluran yang tepat untuk customer agar dapat berkomunitas, nongkrong bareng, bertemu online maupun offline.


Sumber

Disayangkan Jika Komunitas Hanya Dianggap Target Market



Pengamat pemasaran Yoris Sebastian mengamati bahwa kini makin banyak bermunculan komunitas konsumen, terutama komunitas yang terkait dengan merek suatu produk tertentu. Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya fokus mengejar kuantitas dan menganggap komunitas ini sebagai target market, bukan komunitas sebagai kumpulan orang dengan passion yang sama.

Yoris berpendapat, mestinya perusahaan benar-benar membentuk atau mencari komunitas yang memang selaras dengan perusahaan mereka. Sehingga komunitas tersebut benar-benar aktif dengan atau tanpa dukungan dari perusahaan. “Banyak komunitas yg mati begitu tidak disupport lagi oleh perusahaannya,” kritik pakar kreativiras itu. Terutama pada komunitas yang berbasis nama brand, bukan komunitas yang berbasis kesamaan anggotanya.

Toh, itu bukan berarti Yoris tidak setuju komunitas dengan memakai nama perusahaan tertentu. “Tapi, dasarnya harus dari kesamaan passion, needs, pekerjaan atau lainnya,” tuturnya menyarankan.

Menurutnya, membentuk komunitas itu pekerjaan maraton. Jadi, bukan pekerjaan dengan “akhir” tertentu. Ia lalu meminta kita melihat bagaimana Harley Owner Group dibuat sebagai platform, setelah itu para anggota komunitasnyalah yang aktif. “Aktif, jadi mereka tetap sibuk bikin acara sendiri meski tidak dikasih uang bensin,” tegasnya. Ia membenarkan banyak komunitas yang harus disuapi terus oleh brand yang mendukung komunitas tersebut.

Untuk tidak menjadi bumerang, ia menyarankan perusahaan harus tampil sebagai problem solver dari komunitas yang ada, atau untuk komunitas yang dibentuk. “Brand harus memberi berbagai hal yang belum tentu bisa dicapai oleh si komunitas itu, Sehingga mereka melihat brand sebagai hero, dan mereka akan berterima kasih kepada brand yg mendukungnya,” paparnya.

Ia menegaskan, kerja sama dengan komunitas atau membentuk komunitas tidak melulu dengan harus ada embel-embel hard sell. “Sekarang semakin banyak open community yang sengaja dibuka oleh brand untuk menunjukkan how good their user is,” imbuhnya. Nah setelah komunitas itu sudah jalan dengan solid barulah diberikan berbagai kemudahan atau added value untuk mereka.

Intinya brand selalu menjadi problem solver. “Dilihat problem apalagi yang bisa dipecahkan? Sehingga makin banyak orang mau ikut komunitas tersebut,” katanya. Maka itu perusahaan sebaiknya ada tim khusus yang menangani komunitas ini. Namun tidak tertutup jika itu perusahaan kecil, bisa ditugaskan ke bagian marketing.

Tujuan utama yang harus ditekankan, lanjut Yoris, selalu membuat komunitas menjadi lebih baik. Bila komunitas semakin baik tentu bisa berdampak ke merek produk yang mendukungnya juga. “Lihat saja komunitas ibu-ibu Tupperware, semakin banyak ibu-ibu yang sukses, sesuai dengan spirit “She Can” dan semakin besar komunitas “She Can”, sehingga makin besar kemungkinan penjualan produk mereka. Walau no string attched lho,” jelasnya.

Yoris mengingatkan, kerja sama tidak akan efektif jika brand hanya memikirkan bagaimana cara membuat komunitas ini membeli produkt/jasa mereka, bukannya terus mencari cara bagaimana mengembangkan anggota komunitas jadi lebih baik. Ia mencontohkan komunitas wirausaha muda mandiri (WMM) milik Bank Mandir. Semakin sukses si pengusaha muda artinya semakin besar kesempatan mereka menggunakan berbagai fasilitas Bank Mandiri. Walau tidak ada syarat khusus bahwa yg ikut program WMM hanya nasabah Bank Mandiri.


Strategy Marketing ala Mendekati Cewek Cafe


Dunia yang semakin kompetitif memaksa para marketer untuk secara kreatif menggali startegy strategi baru dan paling jitu. Terlebih saat dunia semakin tanpa batas dengan perkembangan internet yang semakin canggih. Namun sebenarnya secara strategy marketing bagaikan men dekati cewek dalam sebuah cafe. Tentu beragam cara dan taktik ketika ingin berkencan dengan cewek tersebut.

Pertama, ketika kita meihat cewek yang aduhai he he he. Kita langsung mendekati cewek dan mengatakan “ hallo cewek, kamu mau nggak kencan sama saya, nama saya X, saya orangnya cakep and tajir. Loe rugi deh kalu nggak kencan sama gue, ayolah kita kencan”. Strategy ini sering disebut sebagai Hard Selling. Strategy penjualan seperti ini terbilang kasar. Coba lihat di facebook, banyak kan yang tiba tiba menawarkan produk. Biasanya strategi ini seorang salesman atau marketer akan banyak berbicara tentang kelebihan-kelebihan produknya kepada pelanggan tanpa mau mengetahui apa sebenarnya yang dibutuhkan pelanggan. Strategi ini seringkali memaksa, meminta sampai memohon belas kasih untuk mendapatkan order. Strategy mengabaikan hubungan emotional dengan pelanggannya.

Kedua, Ketika kita ingin mendekati cewek dengan cara meminta seorang pelayan cafe untuk memberikan segelas wine kepada seorang cewek. Pelayanan tersebut kemudian mengatakan kepada cewek” saya diminta itu memberikan segelas wine ini untuk Mbak. Cowok yang duduk di situ yang mentraktir. Cowok itu ingin sekali berkenalan dengan mbak ”. Startegy ini dalam dunia marketing disebut sebagai Advertising, Advertising (Periklanan atau Promosi ) adalah suatu bentuk komunikasi yang ditujukan untuk mengajak orang yang melihat, membaca atau mendengarnya untuk melakukan sesuatu. Ada dua strategy pertama, Above The Line (ATL) adalah aktifitas marketing/promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi. Sifat ATL merupakan media ‘tak langsung’ yang mengenai audience, karena sifatnya yang terbatas pada penerimaan audience. Kedua, Below The Line (Media Lini Bawah) adalah segala aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat retail/konsumen dengan salah satu tujuannya adalah merangkul konsumen supaya aware dengan produk kita, contohnya : program bonus/hadiah, event, pembinaan konsumen dll. Pada intinya aktifitas BTL selalu bertujuan untuk mendukung dan memfollow up aktifitas ATL. Sifat BTL merupakan media yang ‘langsung’ mengena pada audience karena sifatnya yang memudahkan audience langsung menyerap satu produk/pesan saja.


Ketiga, Strategy mendekati cewek di cafe dengan cara memberikan uang tips kepada beberapa pelayan. Agar pelayan tersebut berbicara kebaikan dan kelebihan kita di depan cewek yang ingin kita dekati bahkan didepan semua pengunjung cafe. Beberapa pelayan tersebut dengan cara bergantian dan secara alami akan mengatakan ” Mbak cowok itu namanya X, dia orangnya baik dan tajir. Banyak sekali pengunjung atau cewek yang mendekati dia, Selain itu cowok itu sabar dan cool and bla..bla..bla”. Pembicaraan atas kebaikan dan kelebihan kita ini berkembang dari sebelumnya antar pelayan sampai berkembang antar pengunjung Cafe. Namun kita yang sedang dibicarakan harus selalu menunjukan baik kita meaik baik dan memiliki kelebihan kelebihan. Startegy ini dalam marketing disebut sebagai Word of Mouth Marketing atau marketing komunitas atau juga disebut Getok Tular. Pelanggan akan membicarakan kelebihan atau benefit produk kita kepada rekannya, kepada saudaranya dan kepada kenalannya yang lain. Bahkan pelanggan pelanggan yang telah merasakan benefit membentuk komunitas yang selalu membicarakan produk kita. Bahkan pelanggan yang telah membentuk komunitas ini bisa memberikan masukan masukan ke perusahaan sehingga inovasi produk yang kita kembangkan sesuai ketinginan pelanggan. Hasilnya adalah pelanggan merasa memiliki emotional yang tinggi bahkan merasa memiliki produk tersebut. Pelanggan pelanggan inilah yang akan membela produk kita.

Akhirnya saya katakan bahwa area kompetisi yang sebenarnya berada di mind customer/benak pelanggan bukan dipasar.


 
Copyright © 2015 | Buzzer Agency - All Rights Reserved.
Supported by : Creating Website | Johny Template | Mas Template